Penisku sebisa mungkin kutahan tidak mengembang. Bokep Montok Tina menatapku dan kubelai rambutnya. Sedang aku sedikit menggeram dan ”oouugghhh..hhmmppff..mpekmu enaknya Tttiinn..”. Pembantu-pembantu adikku memang dibiasakan memanggil “Pak“ pada saudara-saudara majikannya, padahal terdengar sedikit asing di telinga. Pentilnya nggak terlalu besar. Karena aku tidak membawa sikat gigi, hanya berkumur dengan obat kumur. Kukecup bibirnya lembut, “nanti dilanjut lagi“. Tina juga menatapku. Lalu dengan tenang Tina menyampirkan handuk biru yang sedari tadi menutup sebagian tubuhnya. Kalo di sini ya habis kamu mandi”. Saya nggak akan bilang siapa-siapa. Mungkin ia belum pernah meng-oral suaminya dulu sebab penisku hanya dicium-cium dan diremas-remas. Entah rejeki atau kesialan bagiku tentang kemunculannya. Tina mulai membuka mulut, sedikit demi sedikit penisku memasuki mulutnya. Lalu tangan kananku meraih kepalanya seperti tadi dan kucium panas bibirnya. ”Di kamar mandi ini saja Pak..”.




















