Aku tak tertarik mendengar pembicaraannya tapi kudengar sayup sayup panggilan “sayang” berulang kali dan diakhiri dengan kata “I love you too”.“sorry, tadi dari anakku, Devi, biasalah gadis jaman sekarang banyak kebutuhannya” katanya seperti ingin memberi penjelasan padaku, padahal aku tak peduli apakah dia telepon sama Devi atau siapapun, anaknya atau apapun, bukan urusanku.Babak kedua kami lakukan 20 menit kemudian, kali ini posisiku diatas, dengan leluasa dia bisa menjamah seluruh tubuhku, meremas remas buah dada dan mendekapku dengan gemasnya. Kubaca badgenya, ternyata sebuah SMA favorit di Surabaya, untuk masuk ke sekolah itu tentu haruslah anak pintar atau kaya, atau keduanya.“mbak mau tolong aku nggak ? Video bokep maafkan sahabatmu ini, maafkan aku, bukan maksudku …” teriak batinku tak kuasa melanjutkan, tiba tiba rasa kangen ingin bertemu dengannya begitu besar, namun mengingat kejadian barusan rasanya tak ada muka untuk bertemu dengannya.Seperti kata Om Hari tadi,




















