Setiap gerakan nyaris dalam beberapa detik, teramat perlahan. Sambil menikmati musik, kami saling berdiam diri, hingga akhirnya Siska mengatakan,“Mmm.. Bokeb Melewati bagian tengah, naik lagi. Entah ada setan apa, secara reflek aku memegang tangan kanannya. Salah satu tangannya menyelinap di antara belahan pantatku, menyentuh anusku, dan merabanya.Siska melanjutkan perjalanan lidahnya, naik semakin ke atas, perlahan-lahan. Kubuka kancing celananya. “Kamu terangsang ya, Will?” tanyanya pelan dan agak lirih.Aku tidak menjawab. Sekali lagi Siska berbisik, “Will, aku tau kamu terangsang, boleh nggak aku lihat punyamu? Bukan kepalang nikmat yang kurasakan, tubuhnya bergerak tidak karuan, seiring dengan gerakan kepalanya yang naik turun, kedua tangannya tak henti-henti meraba dadaku, terkadang ia memilin kedua puting susuku dengan jarinya, terkadang ia melepaskan kuluman untuk mengambil nafas sejenak lalu melanjutkannya lagi.Semakin lama gerakannya makin cepat.




















