Kembali Lidya mencium bibirku. Berulang kali dia menuntun tanganku ke dadanya yg kini sudan polos.“Ayo dong, jangan diam saja..”, bisik Lidya disela-sela tarikan napasnya yg memburu. Bokeb Sabar sekali dia menuntun jari-jari tanganku untuk meremas dan memainkan bagian atas dadanya yg berwarna coklat kemerahan. Dia masih melingkarkan tangannya ke leherku. “Siapa namanya?” tanya Tante Amanda lagi. Lalu dia menuntun dan membawanya ke pembaringan. Dan jarak umur antara kami cukup jauh juga. Sementara bagian bawah badanku semakin menegang serta berdenyut.Entah berapa kali dia membisikkan kata di telingaku dgn suara tertahan akibat hembusan napasnya yg memburu seperti lokomotif tua.




















