Memang tujuan kamike WC bukan sekedar pipis. Bokeb Mungkin karena pakaian kantorku, mereka mengira saya esmud yang kesepian. Tetapi mana ada mecky dijual di warung? Kebiasaan (buruk) saya doyan alkohol. Apalagi di bar ini minuman berkelas semua ada. Serem kan? Setelah saya kencing cukup banyak dan berbau alkohol, saya cuci pakai air semprotan. Itu cukong loser! Obrolan kami semakin hangat dan Makiko (yang akhirnya kupanggil Kiko) mulai merangkul tanganku. Saya terus menanyakan barnya, bagi saya uang 400 ribu rupiah termasuk banyak untuk happy semalaman. Di leher jenjangnya terbelit syal bulu warna hitam, namun tidak menutupi belahan payudaranya yang terdesak ketatnya blazer yang dipakainya, hmmm kecoklatan, rupanya dia sering liburan ke pantai. Wah, semoga belum pergi. Akhirnya kami langsung saja jalan sepanjang Arcade Shinshaibashi sambil bercengkerama, saya dengan bahasa Jepang pas-pasan saya dan Makiko dengan inggris terbata-bata.




















