Pasti terburu-buru. Bokep Asia Kring..!“Mbak Wien, telepon.” kataku.Ia berjalan menuju ruang telepon di sebelah. Matanya dikerlingkan, bersamaan masuknya mobil lain di belakang angkot. Jari tangan mulai dingin. Atau apalah? Dari iramanya bukan sedang berjalan. Membuatku tidak berani. Yes. Tapi kakiku saja yang seperti memagari tubuhnya. Sial. Kadang-kadang ketimun. Aroma asli seorang wanita. Dari jarak yang dekat ini hawa panas tubuhnya terasa. Ke bawah lagi: Turun. Wanita muda itu sudah keluar sejak melempar celana pijit. Aku tidak tahan. Atau kesialan, karena ia masih mengangkat tabloid menutupi wajah? Aku membayangkan dapat menjepitnya di sini. Bahannya tipis, tapi baunya harum. Ia sudah membereskan peralatan pijat. Badannya berbalik lalu melangkah.




















