Toh ia sudah seperti pasrah berada di dekapan kakiku. Jari tangan mulai dingin. Bokep Jilbab/Hijab ujar suara wanita muda yg kemarin menuntunku menuju ruang pijat. Astaga. Aq mengikutinya. Bodoh, bodoh, bodoh. Aq kegelian menikmati tangannya yg menari di atas kulit punggung. Esoknya, dari rumah kuitungitung waktu. Kemudian menyerahkan celana pantai.Mbak Iin, pasien menunggu, katanya.Majalah lagi, ah tdk aq harus bicara padanya. Lalu asyik membuka tabloid. ujarku sekenanya.Aq dibimbing ke sebuah ruangan. Tapi masih terhalang kain celana. Ciut. Mungkin sapu tangan ini saja suatu kealpaan. Tetapi, aq harus berani. Begini saja daripada repotrepot. Daripada suntuk diam dirumah, tadi malam aq menyeleseaikan kerjaan yg masih menumpuk. Kali ini lebih bertenaga dan aq memang benarbenar pegal, sehingga terbuai pijitannya.Telentang..! Tapi kakiku saja yg seperti memagari tubuhnya. Aq menyesal mengutuk ibu ketika pergi. Betulbetul keras. Aroma asli seorang perempuan. Masak tdk ada yg bisa dibicarakan.




















