Sayangnya, buah dadanya tak begitu “menjanjikan”. Mulutku langsung menuju belahan buah dadanya. Bokeb Aku tak begitu mendengar ocehannya, lagi asyik meneliti satu persatu cewe-cewe itu buat menetapkan pilihan tubuh yang pas dengan idolaku. Susah digambarkan. Tapi Aku tak segera menyebut nomornya untuk dipesan. Di ruangan besar itu banyak berisi sofa dan diatasnya “tergeletak” belasan “ayam” yang sungguh membuatku menelan ludah beberapa kali. Sama dia macam pelayanannya sudah jelas, tapi tubuhnya tak masuk seleraku. Pokoknya engga nyesel.”Dengan agak ragu (masa sih seratusan cewenya yahut?) akhirnya Aku meluncur juga ke sana. Tak sulit menemukan tempat ini. “Hi… manja,” tapi tangannya bergerak membuka kancing kemejaku, lalu singletku, kemudian ikat pinggangku. Keputusan yang agak spekulatif sebenarnya. “Maunya service yang memuaskan.”
“Yang memuaskan yang gimana?”
“Body massage, karaoke, dan main,” serangku, meniru servis Si Besar tadi.




















