“Cinta…?” aku mendesis tidak mengerti.Entah kenapa Linda tersenyum. Linda memandangi tubuhku dan kepala sampai ke kaki. Bokep Live Dan jarak usia antara kami cukup jauh juga. Sementara Tante Maya pergi membawa Bobby, aku dan Linda duduk di bangku taman dekat patung Pangeran Diponegoro yang menunggang kuda dengan gagah.Tidak banyak yang kami obrolkan, karena Tante Maya sudah kembali lagi dan memberikan Bobby padaku sambil terus-menerus memuji. “Iya, Tante. Bahkan dia meremas-remas jari tanganku. Memang tingkahku tidak ubahnya seorang anak balita.Tangisanku baru berhenti setelah Ayah berjanji akan membelikanku motor. “Ayo dong, jangan diam saja…”, bisik Linda disela-sela tarikan napasnya yang memburu.




















